The Wedding
Karawang, 27 mei 2010
Dan ketika saat ini tiba,
Telah kusempurnakan setengah agamaku
Melangkahku kini pada ikatan suci
Menjalin kasih , merajut nada-nada mesra
Menjalin bahagia, merajut nada-nada setia
Kuyakin ku tak sempurna,
Kuyakin ku hanya manusia biasa
Kuyakin ku tak abadi
Kuyakin ku hanya hamba sang kuasa
Kuyakin kau tak sempurna
Kuyakin kau hanya manusia biasa
Kuyakin kau tak abadi
Kuyakin kau hanya hamba sang kuasa
Dari itulah, kita bersatu
Dan saling mengerti
Dan berharap berakhir bahagia
Amin
Mata dan tatapan
Karawang, 24 mei 2010
beribu kali coba kutepis
dan beratus kali coba kuabaiakan
Tatapan itu begitu tajam
dan menghujam tajam ke hatiku
haruskah selalu ditepis
dan haruskah selalu diabaikan
apakah ini salah
dan apakah itu benar ?
sendiri ku tak bisa jawab
hanya rindu kian lama kian kikis
perasaan ini apakah dalam
dan perasaan ini mungkinkah dangkal ?
sendiri ku tak bisa jawab
hanya bimbang kian hari kian hilang
harapku engkau cukup tahu
rindu ini dan bimbang ini takkan terjadi
bila saat itu tak ada tatapanmu.
Aku Kamu
Karawang, 14 Juli 2009
Jika aku adalah aku maka aku bukanlah kamu
kadang aku menjadi kamu, tapi tidak selamanya
mungkin kamu tidak ingin seperti aku,
tapi kamu mengalami apa yang ada di aku
aku adalah aku dan kamu bukanlah aku
aku dan kamu individu beda rupa,
aku dan kamu meski beda, tetapi kadang ada semili tubuh yang sama
semili sifat yang sama, semili dan bukan se inchi apalagi semeter
apapun itu aku atau kamu
aku dan kamu menjadi kita, dan kita adalah sama
sama- sama ciptaanNYA
Lubang Aspal Karawang
Karawang, 13 Mei 2009
Tanpa memaki, Lebih suka ku sadar diri..
Lewati kerikil lepas, dan sisa tanah tapak truk
Kadang ku goyah, namun kendali tetap terpegang
Umpatan takkan jadi kenyataan, hanya dendam berujung muram
Semua alur hendaknya berarah,
alur perintah penguasa berarah kebahagian rakyatnya
Namun apakah rakyatnya tahu..
alur untuk mengarahkan penguasanya..
Harapannya, semoga janji tak berujung pengingkaran..
Seratus meter lagi kusampai tujuan
Namun masih tetap ada gundukan di aspal
Dipasang untuk menunjukan keangkuhan,
Ataukah penghakiman untuk yang liar..
Tanpa memaki, Lebih suka ku sadar diri..
Lewati gundukan di aspal, dan sisa tanah tapak mobil
Mencari Jatidiri
Karawang, 13 Maret 2009
Kapan berhenti berpikir picik
untuk temukan alasan hidup
untuk memendam alasan kenapa harus mati
Kenapa tidak bisa terima saja,
kenyataannya, tuhan bukan hanya sayang pada satu orang saja
malaikat tuhan juga bukan mahluk yang bodoh. yang seenaknya membangkang
Hanya saja, perlu untuk menggali
kenapa harus mengabdi
dan pilihan apa yang akan menentukan jalan kedepan
Lagi-Lagi
Karawang,6 Maret 2009
Kadang aku tidak tahu apa yang aku inginkan,
kadang juga aku malah berbalik dari kenyataan.
aku membisu daripada aku berbentur dengan tengkar
namun kembali aku sesak, dan refleksikan pada masa sudah lewat.
pikiran picik dan menyerah pada hal hina
aku bukan seperti itu,
aku adalah pemimpin, setidaknya bagi diriku sendiri
aku adalah abdi, hanya bagi tuhanku saja, bukan pada waktu
yang menamparku bertubi-tubi, dengan seabrek problematika
kendali diri harus kembali diraih..
laju kudaku menuju cahaya sinar yang menerangkan tapi tidak menyilaukan
Pucuk kegalauan
Karawang, 23 Feb 2009
aku sendiri..
menggagas pemikiran rancu
tentang kapan akhir dimulai
dan kapan mulai diakhiri
sejatinya diri hendaknya selalu ingat
ingat akan kebesaran sang maha
maha kuasa, maha pengasih, maha penyayang
akan selalu naungi kalbu yang mencari keterangan
akan selalu berikan cahaya bagi sang beriman
apakah aku didalamnya?
tentu aku sendiri…
sendiri tanpa bisa menjawab..
Hanya saja tekad kali ini harus langkahkan kaki..
untuk songsong masa depan dengan sorot kuat
gemilang dan hadir didepan..





gombal kabeh…
Hehe.. Hasil karya original loh rip.. dari hati banget..
bukane wes tau gawe 100 puisi untuk hadiah ultah??
wah jan pak de ki… senenge ngurang-ngurangi.. 170 pakde… hehe